Senin, 23 Maret 2009

REFLEKSI ATAS SYUKUR NIKMAT



Hadits A’isyah tentang Syukur
Di dalam sebuah hadits Shahih yang diriwayatkan Ibnu Hibban, diceritakan, pada suatu hari, Atha’ dan Ubaid bin Umair bertanya kepada Siti A’isyah : “Wahai ummul Mukminin, berilah kami khabar tentang sesuatu yang paling mengagumkan dari diri Rasulullah saw yang pernah anda lihat ?”
A’isyah menangis lantas berkata : “Keadaan Rasulullah saw yang mana yang tidak mengagumkan? Di waktu malam beliau datang kepadaku. Beliau masuk ke tempat tidur bersamaku sehingga kulitku bersentuhan dengan kulitnya. Beliau mengatakan: ‘Wahai puteri Abu Bakar, tinggalkanlah diri. Aku sedang beribadah kepada Tuhanku’”.
“Saya ingin lebih dekat denganmu,” pintaku. Wanita agung itu lantas meminta izin untuk mengambil geribah air. Ia berwudlu dan menuangkan air begitu banyak.
Setelah itu Rasulullah saw berdiri dan mengerjakan shalat. Beliau menangis sehingga air matanya bercucuran sampai ke dadanya. Beliau ruku’, sujud, dan mengangkat kepala seraya masih menangis.Beliau selalu seperti itu sampai Bilal datang, kemudian menyerukan agar azan untuk shalat shubuh. Aku bertanya kepada Rasulullah saw :”Ya Rasulullah, apa yang membuatmu menangis, padahal Allah swt telah mengampuni segala dosamu, baik yang telah lalu maupun yang akan datang?” tanya ummul mu’minin, Aisyah ra.
Beliau menjawab : “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba Tuhan yang banyak bersyukur (‘Abdan Syakuro) ? Kenapa aku tidak melakukannya sedangkan Allah swt telah menurunkan kepadaku ayat :
Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, perbedaan malam dan siang, kapal yang berlayar dilautan (membawa) barang-barang yang berfaedah bagi manusia, hujan yang diturunkan oleh Allah swt dari langit, lalu dihidupkan-Nya dengan air itu bumi yang telah mati, berkeliaran diatasnya tiap-tiap yang melata, angin yang bertiup dan awan yang terbentang antara langit dan bumi. Sesungguhnya semua itu merupakan ayat-ayat bagi kaum yang berfikir.” (Q.S. Al-Baqarah:164)

Makna”Abdan Syakuro”
Menjadi “Abdan Syakuron” adalah puncak dari pengejawantahan eksistensi manusia sebagai makhluk bertuhan. Abdan Syakuron juga berarti penyerahan diri sepenuhnya atas kehendak Sang penguasa, pengakuan secara total akan kekuasaan dan otoritas Realitas absolut atas ego kemanusiaan, kepasrahan (reseptivitas) seorang hamba atas kehendak Tuhan sebagai wujud penghayatan maksimal terhadap entitas diri manusia yang dijadikan semata-mata untuk beribadah.(Q.S. Adz-Dzariyat:56)
Dari firman Tuhan tersebut, terbukalah realita abadi bagi kita tentang esensi dua makhluk Allah yang memiliki polaritas dalam substansi –yakni Manusia dan Jin namun identik secara fungsional dalam makrokosmos, yaitu kehadiran mereka hanyalah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya.
Istilah ibadah sendiri, adalah salah satu term Arab yang berarti penghambaan diri, diambil dari akar kalimahnya berupa fi’il madhi, ‘Abada yang bermakna menghambakan diri, dan memang manusia beribadah kepada Tuhan-Nya dalam rangka penghambaan diri mereka kepada realitas absolut yang menguasai semesta alam.
Dengan beribadah, seseorang melebur ke-aku-an (ego) dirinya dan mencampakkan potensi kemanusiaan—syahwat dan amarah, untuk menerima perintah Tuhan dan membaktikan dirinya sebagai pelayan Ilahi, mereka tunduk dan patuh secara penuh dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan Tuhan. (Q.S. Ali Imron :102)
Derajat “Abdun”, sebagaimana dikatakan Abu Ali Ad-Daqaq, adalah tataran tertinggi di kalangan manusia terkasih Tuhan. Bilamana nabi Ibrahim a.s. diberi anugerah kehormatan oleh Allah dengan sebutan, Khalilullah (Kekasih Allah), dan Musa a.s. dimuliakan Tuhan dengan gelar Kalimullah karena dapat berdialog langsung dengan Allah, serta Isa a.s. di panggil dengan Ruhullah (Ruhnya Allah), maka nabi Muhammad saw berulang kali dipanggil Tuhannya dengan sebutan Abduhu (Hamba-Nya): Mahasuci dzat Yang telah mengisra’kan hamba-Nya pada malam(mi’raj) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha”(Q.S. Al-Isra’:1),”Maka diwahyukan kepada hamba-Nya apa-apa yang diwahyukan”(Q.S. An-Najm:10).
Pengakuan Tuhan terhadap Muhammad sebagai hamba-Nya (Abduhu) adalah manifestasi dari kecintaan-Nya atas diri pribadi agung itu, demikian pula Tuhan telah memilih beliau adalah untuk diri-Nya : Dan Aku telah memilihmu untuk diri-Ku (Q.S. Thaha: 41), karena itu Dia telah menduduknya dengan derajat kenabian dalam maqam Murad, yang telah ditanggung Tuhan, Sebagaimana firman-Nya : “Tidakkah Kami telah melapangkan dadamu,dan kami hilangkan bebanmu darimu yang (memang) memberatkan punggungmu, dan Kami tinggikan penyebutanmu (Q.S. Alam Nasyrah : 1-4).

Adapun makna Syukur, mengandung term arab yang berarti berterima kasih atau pujian. Seperti yang diuraikan oleh Abul Qasim dalam kitabnya, Risalatul Qusyairiyah, makna Syukur mengandung tiga tingkatan : Pertama, bersyukur dengan lisan, yakni mengakui kenikmatan yang telah diberikan oleh Allah swt dengan sifat tawadlu’ (merendahkan diri). Kedua, bersyukur dengan badan, yakni bersifat selalu sepakat dan melayani (mengabdi) kepada Allah. Ketiga, bersyukur dengan hati, yakni mengasingkan diri dihadapan Allah dengan konsisten menjaga keagungan-Nya.
Ketika seseorang mendapatkan kenikmatan, dia pun berupaya men-tasaruf-kan nikmat yang diperolehnya sejalan dengan perintah Tuhan. Dia pergunakan kedua matanya untuk menyaksikan berbagai keindahan yang merefleksikan sifat al-jamal (keindahan) Tuhan, dan berkata : Wahai Tuhanku, tidaklah engkau ciptakan hal itu dengan tanpa arti [bathil] (Q.S.Al-Baqarah:191), yang keluar dari mulutnya adalah ungkapan berisi nasehat untuk bersabar dan melakukan kebajikan (Q.S. Al-Ashr: 3 - 4), dilangkahkan kakinya kepada hal-hal yang membawa maslahah bagi agama dan menghindarkan diri dari kerusakan yang diperbuat oleh kedua belah tangannya.(Q.S.Ar-Rum:41 ) Senada dengan apa yang telah diuraikan Imam Al-Ghozali di dalam Ihya’ nya, bahwa rasa syukur dinyatakan dengan mengetahui bahwa tiada pemberi kenikmatan selain Allah. Dengan mengetahui limpahan nikmat yang diterima, timbullah kegembiraan dalam hati terhadap Allah dan nikmat-nikmat yang diterima. Dengan hatinya, rasa syukur itu dinyatakan dengan menyembunyikan kebaikan bagi seluruh manusia dan menmghadirkannya selalu dalam mengingat Allah sehingga tidakmelupakannya. Dengan lisan, syukur itu dinyatakan dengan banyak mengucapkan tahmid. Dengan anggota tubuh, dinyatakan dengan menggunakan nikmat-nikmat Allah ta’ala dalam mentaati-Nya dan menghindari penggunaan nikmat untuk mendurhakai-Nya.
Dalam sebuah hadits, diceritakan bahwa Dawud a.s. bertanya kepada Allah swt : “Ya Allah, bagaimana aku mensyukuri-Mu, sedangkan aku tidak dapat mensyukuri-Mu kecuali dengan nikmat yang berasal dari nikmat-Mu ? Allah swt berfirman : “Apabila engkau tahu bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari-Ku, maka Aku rela hal itu sebagai pernyataan syukur darimu”
Dengan demikian, menjadi hamba Tuhan yang banyak bersyukur (Abdun Syakur) berarti pengakuan akan tiadanya entitas diri, hilangnya ego insani dalam kebesaran Realitas absolut (Tuhan) yang diwujudkan dengan penghambaan diri kepada Tuhan seru sekalian alam dengan penuh kerelaan hati, bahkan cinta atas kondisi tersebut.

Syukur adalah pengejawantahan rasa cinta (al-Hub)
Rasa syukur adalah manifestasi kecintaan seorang hamba akan Dzat PemberiNikmat (al-Mun’im) tatkala ia mendapatkan limpahan nikmat dari-Nya. Kerelaan hati terhadap pemberian Tuhan itu diwujudkan dengan kegembiraan dan rasa terima kasih atas karunia yang diterimanya. Bentuk rasa terima kasih itu mengejawantah dalam upaya melakukan perbuatan yang sesuai dengan kehendak Sang Pemberi Nikmat (Sharfu al-Ni’mah li ridlo al-Mun’im).
Menjadi seorang hamba yang banyak mensyukuri nikmat Allah, berarti mengakui betapa besar belas kasih Tuhan dan perhatian-Nya yang kita terima. Ketika seseorang diperhatikan kebutuhan dan dilapangkan kesulitannya, merasalah dia --dalam dirinya, bahwa ada pengakuan atas eksistensi dirinya. Kesadaaran terhadap pengakuan diri ini menimbulkan reaksi timbal balik dalam bentuk pengakuannya terhadap eksisensi Sang Pelindung dan Pemerhatinya. Keadaan ini melahirkan impuls-impuls ruhaniyah untuk mengenal lebih jauh akan eksistensi Sang Pelindung itu, hingga lahirlah perasaan cinta (al-Hubb). Karena itu, tidaklah salah bila dikatakan bahwa pemberian itu bisa menarik perasaan (cinta).Dengan cintanya, seorang hamba berupaya mendekat melalui ibadah-ibadah kesunatan sehingga menjadikan Dia mencintainya, dan Dia akan menjadi telinganya saat dia mendengar, menjadi matanya yang dengan itu dia melihat, serta menjadi lidahnya yang dengan itu dia berbicara. (H.R. Bukhari) Pada saat itu, Cinta Allah kepada seorang hamba merupakan keinginan-Nya untuk memberikan nikmat kepadanya sebagai orang yang telah dikhususkan-Nya.
Dengan demikian, rasa syukur dan mahabbah (cinta) adalah bagaikan api dengan nyalanya, atau air dengan sifat cairnya, karena syukur adalah ungkapan dari mahabbah. Saat seorang hamba bersyukur, terwujudlah perasaan cinta itu, melalui ucapan, tindakan dan perasaan jiwa.
Pernyataan Rasulullah saw : “Apakah saya tidak boleh menjadi hamba Tuhan yang banyak bersyukur?” memberi tengara yang jelas atas kecintaan beliau yang begitu besar kepada Allah swt, mengalahkan apapun didunia sehingga tidak disentuhnya siti ‘Aisyah r.a., istri yang paling beliau kasihi. Kegembiraan Rasulullah dengan panggilan Tuhan “Abduhu” seyogyanya menyadarkan hati-hati kita yang mulai mengeras bahwa nilai utama dari kemanusiaan adalah bersumber pada sejauhmana kita menunaikan tugas asasi kita sebagai khalifah, yang tak lain adalah menjadi pelayan-pelayan Tuhan dimuka bumi. (Q.S.Al-Baqarah:30), Bukan untuk berkutat dengan pencarian derajat, kekayaan, kedudukan, pengaruh dikalangan manusia. Sebab Allah tidak akan menilai martabat seorang manusia, dari rupa, harta dan kedudukan tetapi keimanan dan rasaa taqwa. (H.R. Muslim)

Mensyukuri Nikmat Allah
Sebenarnya banyak jalan mensyukuri nikmat Tuhan sebanyak celah kehidupan yang dijalani oleh manusia. Mengungkapkan rasa syukur atas nikmat Tuhan, dapat dimanifes-tasikan dalam tiga jalur utama, yakni lisan, perbuatan anggota badan, dan amaliah hati.
Syukur seorang fakir miskin yang hidup dalam keadaan serba kekurangan adalah dengan kesabaran, tawakkal dan qonaah menghadapi hidup. Syukur seorang hakim adalah dengan memberikan putusan yang seadil-adilnya dengan berdasarkan undang-undang kitabullah dan sunnah rasul. Syukur para ulama’ dan orang yang berilmu adalah dengan mengajarkan ilmunya, serta mengamalkannya sesuai ilmu yang dia miliki. Demikian pula dengan syukur para petani, pedagang, sopir dan segala corak kehidupan yang dijalani manusia memiliki ungkapan yang berbeda-beda.
Maka, rasa syukur adalah penggunaan nikmat sejalan dengan untuk apa diciptakan-Nya nikmat itu bagi seorang hamba. Misalkan seorang raja yang memberi hamba sahayanya seekor kuda dengan segala keperluannya, maka mensyukuri nikmat itu adalah dengan menaiki dan menggunakannya dijalan yang ditetapkan baginya, yakni jalan yang di ridloi oleh sang Raja. Jika ia menaikinya untuk menjauhi sang Raja dan dan digunakan dijalan yang tidak disukainya, maka hal itu adalah kebodohan dan mengingkari nikmat.
Dengan mensyukuri nikmat berarti membuka jalan bagi datangnya pemberian Tuhan dan balasan bagi mereka yang ingkar akan nikmat Tuhan, adalah siksaNya yang pedih.: Jika kamu sekalian bersyukur maka Aku akan memberikan tambahan kenikmatan kepada kamu sekalian, dan jika kamu sekalian ingkar sesungguhnya siksa-Ku amatlah pedih. (Q.S. Ibrahim:7 ) Namun, mengapakah sedikit sekali orang yang mau bersyukur, sebagai- mana firman Allah : Dan sedikit saja dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur (Q.S. Saba’:13). Padahal, dengan mensyukuri nikmat Allah berarti kita mengingat-Nya dan bila kita ingat kepada-Nya, maka Dia akan mengingat kita.(Q.S.Al-Baqarah:152). Sedangkan “Sesungguhnya dzikrullah (mengingat Allah) adalah sesuaatu yang maha besar” (Q.S. Al-Ankabut:45). Semoga kita menjadi para hamba yang mau mensyukuri nikmat Tuhan. Amien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar