Minggu, 22 Maret 2009

KONSEP PEMIKIRAN ISLAM DAN CINA TENTANG TEOLOGI

Pendahuluan
Setiap tradisi pemikiran, biasa didapati pula didalamnya pembahasan tentang Kosmologi yang merupakan salah satu cabang dari ilmu metafisika dalam filsafat yang menyelidiki keberadaan alam semesta sebagai sistem yang beraturan. (Kamus besar Bahasa Indonesia, 1992).
Dalam tradisi pemikiran Cina, alam semesta[kosmos] dilukiskan dalam batasan-batasan kerangka Yin dan Yang yang bisa dipahami sebagai prinsip-prinsip eksistensi yang bersifat aktif (Pria) atau Yang dan prinsip yang bersifat pasif (wanita) atau Yin.
Yin dan Yang saling mengisi, merangkul satu sama lain dalam keselarasan dan keterpaduan yang menghasilkan segala apa yang ada dialam semesta (kosmos). Simbul keterpaduan antara prinsip Yin dan Yang digambarkan sebagai Tai Chi atau Tao, yang melukiskan kedua prinsip tersebut sebagai gerakan dan perubahan yang konstan. Dalam fenomena tertentu, hubungan antara Yin dan Yang terus-menerus berubah sebagaimana digambarkan oleh kata-kata Confusius : “Bagaikan sebuah sungai yang mengalir, seluruh alam semesta terus-menerus mengalir siang-malam”.
Perubahan atau “I” adalah proses dimana langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantara keduanya diciptakan dan diciptakan kembali. Yin dan Yang adalah prinsip-prinsip bagi perubahan itu dan menjadi simbol bagi seluruh gerakan di alam semesta. Ketika matahari terbit (Yang), maka rembulan pun tenggelam (Yin); tatkala musim kemarau tiba (Yang), maka musim penghujan pun beranjak pergi (Yin).
Eksistensi, dalam pandangan tradisi pemikiran Cina, berarti perubahan harmonis yang berpijak pada Tao. Jika harmoni antara Yin dan Yang hilang, maka alam semesta pun akan berhenti mengalir dan tak bakal ada sesuatu. Dalam hal ini ajaran-ajaran dasar kosmologi Cina sangat menekankan pentingnya konsep tentang “Harmoni dan keseimbangan antara dua prinsip eksistensi, Aktif(Yang) dan Pasif (Yin)”. Penjelasan tentang ajaran Tao ini dapat anda temui dengan jelas dan gamblang dalam sebuah kitab pemikiran Cina, I Ching.
Sementara itu, sebagian besar konsep kosmologi Islam juga bertumpu pada konsep “Komplementaritas”,(mengakui adanya sifat saling melengkapi), dan “Polaritas” (memperhatikan dua prinsip yang saling berlawanan) antara prinsip -prinsip aktif dan reseptif. Hanya saja, kaum bijak muslim (para filsuf atau Hukama’, bentuk jama’ dari Hakim, yang berarti orang yang bijaksana) menggunakan bentuk terminologi atau tata istilah yang tidak lazim sehingga membutuhkan penalaran dan analisis yang lebih mendalam sebelum menguraikan kedua prinsip tersebut secara jelas dan gamblang.

Konsep Pemikiran Islam dan Cina TentangTeologi
Sebelum membahas pada inti permasalahan, terlebih dahulu kita kembali pada bagaimana bentuk/corak pemikiran dan praktek Islam tentang teologi. Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa pemikiran dan praktek Islam dimulai dari Allah..
Ada dua prinsip yang paling mendasar dan utama dalam memahami ajaran teologi Islam. Pertama, Rukun Islam yang pertama adalah pernyataan secara lisan bahwa “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Pesuruh Allah.” Kedua,Imam kepada Allah menjadi rukun Islam nomor wahid.
Dengan demikian, definisi kedua prinsip yang paling mendasar dan asasi tersebut adalah pernyataan dan keyakinan atas ketauhidan Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits yang disuguhkan oleh imam Bukhori pada bab Tawhid :


“….Allah ada dan tidak ada sesuatupun selain Dia….”


“….Allah ada dan tidak ada sesuatupun sebelum Dia….”
“Pada mulanya, di jaman azali, yang ada hanyalah Allah..” Demikian para ahli Kalam berkata. Akan tetapi, Dia yang maha Agung sama sekali tidak terdefinisikan sebab tidak ada satu wujud pun yang dapat memperlihatkan sifat-sifat dan kualitas individual dalam Dzat yang tak terbedakan. Hal senada telah diungkapkan pula oleh tradisi Cina yang menuturkan kepada kita bahwa sebelum Yin dan Yang berada, sudah ada Tai Chi atau “Puncak Agung” yang sama sekali tak terdefinisikan dan merupakan kualitas purba (Primordial) dari segala sesuatu dan menjadi sumber dari jagad raya (kosmos). Yin dan Yang adalah “Dua Kekuatan Utama” sebagaimana dikatakan Confucius :
“Senantiasa ada Tai Chi dalam perubahan. Perubahan melahirkan dua kekuatan utama. Dua kekuatan utama melahirkan empat citra, dan empat citra melahirkan delapan trigram…”(Ta Chuan 11.5 ; Lihat juga I Ching 315).
Dalam teologi, ada dua konsep dasar yang dikembangkan oleh tradisi Islam, yakni konsep “ke-tidak terbandingan Allah Azza Wa Jalla” dan konsep “Keserupaan-Nya (Tasybih)”
Konsep “Ke-Tidak terbandingan Allah” memiliki dasar pijakan dari beberapa nash al-Qur’an sebagaimana telah dituangkan dalam beberapat ayat, diantaranya dalam firman Allah :


“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. (Q.S.42:11)
Ungkapan yang lebih jelas lagi tentang hal ini dapat kita simak dari firman Allah :


“Segala puji bagi Allah, Tuhan yang tidak terjangkau, jauh dari segala apa yang mereka sifatkan”.(Q.S.37:180).
Berdasarkan dalil-dalil nash tersebut, dapat dipahami bahwa Allah adalah Dzat yang Unik, yang tidak terbagi, merupakan realitas impersonal yang berada jauh diluar jangkauan manusia dan makhluk. Konsep ini selaras dengan konsep Tai Chi dalam tradisi pemikiran Cina (Taoisme) dan ia pun tumbuh menjadi salah satu madzhab pemikiran ortodoks dalam Islam yang diwakili oleh para Teolog Dogmatis, yakni kaum salaf, ahlul Hadits, dan para pendukung Kalam.
Berbeda dengan konsep tersebut, timbul pula suatu madzhab pemikiran baru yang beranggapan bahwa semestinya dalam kualitas tertentu, dengan meminjam istilah teologis, Tuhan haruslah dapat diserupakan (Tasybih) sejauh hal tertentu dengan Makhluk-Nya. Madzhab pemikiran ini diwakili oleh ibn ‘Arabi, sebagian filsuf dan pengikut mistikisme.
Ibnul ‘Arabi memberikan kritik dalam pendapatnya dengan menyatakan bahwa Tuhannya para Teolog adalah Tuhan yang tidak mungkin dan mustahil untuk dicintai karena DIA terlalu jauh dan tidak dapat dipahami. Akan tetapi Tuhannya al-Qur’an, Nabi dan otoritas spiritual ainnya adalah Tuhan yang benar-benar bisa dicintai karena DIA begitu memperhatikan makhluk-makhluk-Nya. Tuhan yang penuh kasih sayang dan cinta ini bisa dimengerti dan dipahami. Karenanya, sejauh hal tertentu dengan makhluknya, DIA dapat diserupakan (Tasybih). Kita bisa dengan tepat mengetahui dan mengenal diri-Nya dalam sifat-sifat manusia. Inilah pandangan tentang keberadaan Tuhan dalam segala sesuatu yang juga jelas-jelas didukung pula oleh nash al-Qur’an seperti firman Allah :


“Kemanapun kamu menghadapkan wajahmu, disitulah wajah Allah.”
(Q.S. 2:115)


“Kami lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri”..
(Q.S. 50:16).
Dalam pandangan ini, Allah adalah Tuhan yang personal. Inilah konsep daripada prinsip “Keserupaan Tuhan (Tasybih)”
Terlepas dari pertentangan yang terjadi antar kedua madzhab pemikiran dalam teologi Islam sebagaimana penulis paparkan diatas, pada dasarnya pemikiran Islam tentang Tuhan berpusat pada nama-nama atau sifat-sifat Allah yang diwahyukan dalam al-Qur’an, yaitu sebanyak 99 nama Allah yang kita kenal dengan sebutan “Al-Asma’ al-Husna”. Dan dari dua perspektif dasar inilah—yakni asma’ dan sifat Allah--, kedua konsep dasar pemikiran tersebut disandarkan dimana masing-masing konsep, baik “Ketidak terbandingan” dan “Keserupaan” Tuhan dikaitkan dengan nama-nama dan sifat tertentu.
Konsep “Ketidak terbandingan Allah” mengingatkan kita pada asma’-asma’ Tuhan seperti al-Qowiyyu (Maha Kuat), al-Jabbar(Maha Pemaksar), al-Qohhar(Maha Perkasa), al-Kholiq(Maha Pencipta) dan sifat-sifat serupa yang hadits Nabi menyebutnya sebagai sifat-sifat Allah “Al-Jalal” (Sifat Keagungan) ,dimana menurut tradisi pemikiran Cina, analog dengan prinsip “nama-nama Yang” dalam kosmologi Tao karena menekankan keagungan, kebesaran, kekuasaan, kendali dan maskulinitas (sifat Pria).
Sebaliknya, konsep “Keserupaan Allah (Tasybih)” mengingatkan kita kepada asma’-asma’ Allah al-Rahman(Maha Pengasih), al-Rahim(Maha Penyayang), al-Lathif(Maha Lembut), al-Ghofur(Maha Pemaaf), al-Hayyu(Maha Pemberi Hidup) dan sifat-sifat serupa sebagaimana hadits Nabi menyebutnya sebagai sifat-sifat Allah “al-Jalal”(Sifat Keindahan) yang dapat dianalogkan dengan prinsip “nama-nama Yin” dalam kosmologi Tao karena menekankan kepasrahan kepada kehendak dan keinginan pihak lain, kelembutan, penerimaan, reseptivitas, dan feminimitas (sifat Wanita).
Kedua perspektif teologi dasar ini membentuk dua kutub pemikiran dalam Islam. Konsep “Ke-tidak terbandingan Tuhan” menempati kutub negatif dalam perspektif teologi dan konsep “Keserupaan Tuhan (Tasybih)” menempati posisi sebaliknya. Tidak ada kalah dan menang dalam hal ini. Karena tanpa adanya hubungan relasional antara kedua sifat Allah, yakni sifat-sifat al-Jalal dan al-Jamal--maka mustahil tercapai makna kesempurnaan bagi Tuhan (al-Kamal).Karena itulah, baik teologi negatif maupun positif keduanya diperlukan untuk melahirkan pemahaman yang benar tentang realitas Ilahi analog dengan penekanan Confucianisme pada unsur Yang dan penitik-beratan Taoisme padan unsur Yin.
Dualitas alam semesta (kosmos) dan poralitas antara dua hal, seperti siang dan malam, panas dan dingin, halus dan kasar pada hakekatnya terkait pada realitas Maha tunggal yang menjadi sumber segala sesuatu, yaitu ,Allah Azza Wa Jalla (dalam tradisi pemikiran dan teologi Islam) atau Tai Chi (dalam tradisi pemikiran Cina).

P e n u t u p
Konsep pemikiran Cina, yakni Taoisme dan Confucianisme, memandang alam semesta sebagai suatu hasil perubahan yang harmoni antara prinsip-prinsip Aktif(Yang) dan reseptif(Yin). Kedua prinsip tersebut adalah merupakan realitas-realitas turunan dari Realitas tunggal tanpa bentuk, unik, tak terdefinisi yang disebut Tai Chi atau Tao. Pemahaman Islam terhadap alam semesta[Kosmos] adalah kembali dan berawal dari Allah. Dia yang Maha Pencipta telah menghadirkan kosmos dari ketiadaannya.
Proses pencptaan kosmos diyakini oleh tradisi pemikiran Cina sebagai hasil dari perubahan harmonis dari prinsip-prinsip “Yin” dan “Yang”, dua prinsip utama realitas turunan yang saling bertentangan. Kosmologi Islam pun mengenal adanya konsep komplementaritas dan polaritas antara dua hal.. Segala sesuatu telah diciptakan berpasang-pasangan.
Pemahaman tentang bagaimana alam semesta ini tercipta memiliki pengaruh pada pembahasan masalah teologi dan bagaimana seharusnya kita mengimaninya. Disini, tampak pula adanya polaritas yang terjadi antar dua buah madzhab pemikiran yang berkembang, yakni didalam tradisi Islam antara konsep “Ketak-terbandingan Tuhan” dan “Keserupaan-Nya(Tasybih)”, dan dalam tradisi Cina, antara penekanan Confucius pada Yang dan penitik-beratan Taoisme pada Yin, yang pada hakekatnya kedua hal tersebut merupakan bagian / sisi komplementaritas dari Realitas sempurna.
Dalam kedua pemikiran diatas, nampak adanya kesamaan konsep tentang dualisme Realitas primordial dari segala sesuatu. Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa antara corak pemikiran Islam dan Cina, dalam kapasitas tertentu, memiliki kesamaan, khususnya berkaitan dengan konsep kosmologi yang berpengaruh pada pemikiran-pemikiran teologi..
DAFTAR PUSTAKA
Al-Bukhori, Abu Abdillah bin Ismail. Shohih Bukhori. Haramain, tt.
Affifi, A. E. . A Mistical Philosopy of Muhyiddin Ibnul Arabi. Penterjemah Syahril Nawi dan Nandi Rahman. Filsafat Mistik Ibnu ‘Arabi. Gaya Media Pratama. Jakarta: tt.
Murata, Sachiko. The Tao of Islam : A Sourcebook of Gender in Islamic Thought. Penterjemah: Rahman Astuti dan M. Nasrullah. The Tao of Islam : Kitab Rujukan tentang relasi Gender dalam Kosmologi dan Teologi Islam. Mizan. Jakarta: 1996.
Smith, Houston. The Relegions of Man Penterjemah : Safroedin Bahri. Agama-agama Manusia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta: 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar