Minggu, 22 Maret 2009

AJARAN JAWA TENTANG HUBUNGAN MANUSIA, TUHAN DAN ALAM


1. Pendahuluan
Pada dasarnya, semenjak awal bangsa jawa, khususnya yang tinggal didaerah pedalaman dan hidup bercocok tanam, telah memiliki suatu kepercayaan tertentu yang bersifat khas. Bentuk kepercayaan telah berlaku, dalam komunitas jawa, secara turun-temurun jauh sebelum kedatangan agama hindu dan budha. Sistem kepercayaan ini selanjutnyaoleh penulis diistilahkan sebagai agama Jawa.
Agama jawa ini banyak disalah artikan oleh sebagian besar peneliti sejarah dengan menyamakannya dengan kepercayaan dinamisme dan animisme. Hal ini kiranya patut untuk mendapatkan koreksi, sebab dalam komunitas jawa, baik ajaran animisme maupun dinamisme tidaklah dikenal.[1]
Dalam kesempatan ini penulis berkeinginan untuk mengangkat topik seputar tema sentral ajaran agama jawa berkenaan dengan kepercayaan terhadap Tuhan, serta hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta (kosmos). Yang menurut hemat penulis menarik untuk disimak.

2. Ajaran tentang kekuasaan Adikodrati
Orang jawa semenjak awal bukanlah penganut ajarn animisme ataupun dinamisme. Mereka memiliki sietem kepercayaan tersendiri yang mengakui adanya zat adikodrati yang berkuasa dan mengendalikan seluruh kosmos [Tuhan]. Mereka biasa menyebutnya dengan Gusti Sang murben Dumadi. Masyarakat jawa mempercayai adanya hubungan yang harmonis dalam kosmos. Alam semesta sudah diciptakan dalam keadaan tertata secara harmonis sebagaimana apa adanya. Mereka pun yakin bahwa kita bukanlah penghuni satu-satunya didunia ini. Ada alam lain di luar kehidupan kita yang disebut alam ghaib [alam alus] yang dihuni oleh makhluk-makhluk dengan kekuatan adikodrati dimana mereka mampu mempengaruhi kondisi alam manusia [alam kasar]. Oleh karena itu didalam menjalani kehidupan kita dituntut untuk menempatkan diri sesuai dengan tatanan yang telah ditentukan dalam keselarasan kosmos sebagaimana diungkapkan oleh Niels Mulder:”Kosmos, termasuk kehidupan, benda-benda, peristiwa-peristiwa di dunia, merupakan suatu kesatuan yang terkoodinasi dan teratur, suatu kesatuan eksistensi dimana setiap gejala, material dan spiritual memiliki ari melebihi apa yang tampak[2]. Masyarakat dan alam disatu pihak berhubungan dengan alam adikodrati dilain pihak seperti sebelah luar dengan sebelah dalam. Apa yang terjadi disebelah realitsa yang satu mempunyai kecocokannya disebelah satunya. Oleh karena itu manusia tidak boleh bertindak gegabah seakan-akan masalahnya hanya terbatas pada dimensi sosial dan amaliah. Dalam tindak tanduknya ia harus bersikap sedemikian rupa sehingga tidak bertabrakan dengan pelbagai roh dan kekuatan-kekuatan halus.[3]

3. Ajaran tentang hubungan Manusia dengan Tuhan
Inti daripada ajaran agama jawa tentang hubungan relasional antara manusia dengan Tuhan tertuang dalam konsep ajaran mistik tentang Kawruh Sankan Paraning Dumadi, yakni suatu ajaran mistikisme jawa tentang hakekat darimana kita berasal [sangkan] dan kemanakah kita akan pergi sesudah mati[paran].
Inti ajaran mistikisme jawa ini adalah manusia harus dapat mencapai kesempurnaan hidup yang berarti mencapai dasar realitas yang paling dalam. Namun, pengertian akan hakekat sangkan-paraning dumadi ini hanya dapat dicapai manakala manusia menjadikannya sebagai satu-satunya tujuan serta bersedia melawan segala godaan alam luar, dan bahkan rela mempertaruhkan nyawanya sebagaimana digambarkan oleh Bima dalam lakon Dewaruci. Lakon ini mengisahkan bagaimana Bima, saudara ke-dua dari lima kakak-beradik pandawa dalam cerita epos Mahabarata menemukan air hidup yang merupakan perlambang mengenai proses pencapaian kesempurnaan hidup dalam ajaran mistikisme jawa.
Untuk mempertegas pemahaman terhadap konsep ajaran agama jawa tentang realitas hubungan antara manusia dan Tuhan, kiranya perlu sekali menyimak isi cerita lakon Dewaruci. Dalam lakon tersebut diceritakan bahwa :
“Dalam langkah persiapan perang Bratayudha, lawan-lawan pandawa, para Kurawa, berusaha menyingkirkan Bima. Demi tujuan itu Durna, bekas guru Bima dan sekarang menjadi pemimpin ruhani para Kurawa, memerintahkan Bima untuk mencari air hidup yang terdapat didalam gua Condromuka disebuah hutan yang jauh. Tanpa menghiraukan bahaya-bahaya serta peringatan adik-adiknya yang mencurigai perintah itu, Bima berangkat. Sampai ditujuan ia membongkar pohon-pohon serta merusak seluruh hutan untuk mencari air itu. Dengan demikian, ia menimbulkan kemarahan dua raksasa yang tinggal disitu. Sesudah suatu perkelahian yang hebat, Bima berhasil membunuh kedua-duanya; dengan demikian ia sekaligus membatalkan kutukan yang sudah ditimpakan atas mereka oleh Betara Guru. Mereka kembali ke wujud mereka yang sebenarnya sebagai dewa Indra dan Bayu, dan dengan rasa terima kasih memberi tahu Bima bahwa air itu tidak dapat ditemukan dalam hutan ini.
Bima kembali kepada Durna yang sekarang menjelaskan bahwa air itu terdapat didasar samudera. Walaupun Bima sendiri mulai curiga namun ia bertekad mencari air hidup itu meskipun harus dibayar dengan nyawanya. Ratapan kakak-adiknya tidak dihiraukan. Ia berangkat lagi. Perjalanannya panjang. Sampai dipinggir samudera ia menceburkan diri penuh keberanian dalam gelombang-gelombang yang menggemuruh. Sampai ketengah laut yang dalam, ia diserang oleh naga raksasa, Nembuwana.Tetapi ia disobek-sobek Bima dengan kuku keramat pancanaka. Bima merasa lelah dan membiarkan dirinya didorong kesana-kemari oleh ombak samudera. Keadaan menjadi sepi.
Pada saat itulah tiba-tiba muncul wujud kecil yang persis mirip dengan Bima sendiri. Wujud itu memperkenalkan diri sebagai Dewaruci, sebagai penjelmaan yang maha Kuasa sendiri. Ia mengajak Bima memasukli batinnya sendiri melalui telinga kirinya, walaupun Bima merasa ragu-ragu namun ia taat. Tanpa kesulitan, ia memasukkan tubuhnya yang besar kedalam batin Dewaruci.Semua ia menemukan dirinya dalam kekosongan tanpa batas dan kehilangan segala orientasi. Namun, beberapa saat kemudian, ia dapat melihat kembali matahari, tanah, gunung dan laut. Ia mengerti bahwa dalam tubuh kecil Dewaruci seluruh alam luar termuat secara terbalik [jagad walikan]. Ia melihat empat warna, tiga daripadanya yaitu merah, kuning, dan hitam melambangkan nafsu-nafsu berbahaya yang harus dijauhi, sedangkan warna ke-empat, putih melambangkan ketenangan hati. Ia melihat boneka gading kecil yang melambangkan pramana, prinsip hidup Ilahi yang berada didalam dirinya sendiri serta memberi hidup. Bima menyadari bahwa hakekatnya yang paling mendalam adalah manunggal dengan Ilahi. Dalam kesadaran itu, Bima mencapai “Kesatuan Hamba dan Tuhan”. Kesatuan mausia dengan Ilahi : dua-duanya adalah satu yang tak terpisahkan.

Dengan mencapai dimensi realitas hidup yang terdalam, Bima menjadi penguasa atas seluruh bumi : Seluruh alam semesta tertampung olehnya, tidak ada lagi yang bisa dipelajari, “Dalam kehidupannya ia telah mati” dan “Ia hidup dalam kematiannya”. Dengan kekuatan yang tak terkalahkan, Bima meninggalkan Dewaruci. Dalam ketentraman batin, ia pulang kepada kakak-adiknya yang sangat gembira. Dengan seksama ia menyembunyikan apa yang terjadi padanya sambil memenuhi kewajiban-kewajiban yang ditugaskan kepadanya.
Dari kisah tersebut dapat diambil beberapa pengertian. Bahwa manusia harus sampai pada sumber air hidupnya bilamana ia ingin mencapai kesempurnaan, yang berarti sampai pula pada pemahaman akan realitas yang paling dalam. Letak sumber air hidup itu tidak berada di dunia luar, melainkan dalam diri pribadi manusia itu sendiri. Gambaran sosok Dewaruci yang mirip dengan Bima menunjukkan bahwa Dewaruci sebenarnya bukan sesuatu yang asing, melainkan batin Bima sendiri. Begitu juga kekerdilkan Dewaruci melambangkan kenyataan bahwa alam batin semula dipandang tidak berarti dibandingkan dunia luar. Adapun kedewaan Dewaruci melambangkan apa yang segera dimengerti oleh Bima, yaitu ia pada dasar eksistensinya yang paling dalam berkudrat Ilahi. Sesudah memasuki batinnya sendiri Bima teringat bahwa pada dasar hakikatnya ia berasal usul Ilahi. Dalam ingatan itu ia kembali menghayati kesatuan hakikinya dengan asal-usul Ilahi itu, yakni keatuan hamba-Tuhan [Pamore Kawula-Gusti] melalui kesatuan itulah manusia mencari apa yang oleh orang jawa disebut Kawruh Sangkan-Paraning Dumadi. Inilah hakekat inti dan spekulasi mistik jawa.[4]
Keadaan diatas hanya dapat dicapai oleh orang-orang yeng bertekad menjadikan hal tersebut sebagai satu-satunya tujuan serta bersedia untuk melawan godaan dari luar, bahkan mempertaruhkan nyawanya. Manusia semacam ini telah mati bagi alam luar dan mencapai hidup yang benar, yang dalam ajaran mistis jawa, disebut sebagai kesatuan antara “Mati sak jeroning Urip [mati dalam hidup] dan “Urip sak jeroning mati’ [hidup dalam kematian]. Akan tetapi walaupun demikian ia tetap harus melakukan kewajiban-kewajibannya dalam dunia yang telAh digariskan oleh nasib.

4. Ajaran tentang hubungan antar manusia
Ajaran manusia tentang hubungan manusia dengan sesamanya bertolak pada dua kaidah yang menjadi falsafah hidup dan dasar dari sikap moral masyarakat jawa. Kedua kaidah dasar tersebut adalah :
- Prinsip Rukun,
- Prinsip Hormat
Prinsip rukun yang berlaku dalam masyarakat jawa berpijak pada kepercayaan akan “Serba keteraturan alam semesta [kosmos]”. Dunia dan seisinya telah diciptakan dalam suatu tatanan yang harmonis sehingga manusia, sebagai bagian dari kosmos dituntut untuk menjaga keteraturan tersebut agar tidak menimbulkan ekses-ekses negatif dan bahaya. Ia harus menempatkan dirinya sedemikian rupa agar tidak bertentangan dengan keselarasan kosmos. Karena itulah didalam masyarakat jawa berkembang tradisi “Slametan” yang biasanya dihadiri oleh beberapa orang tetangga dengan jamuan ala kadarnya. Maksud daripada tradisi slamten ini adalah semacam perlambang yang digunakan oleh masyarakat bahwa dikalangan mereka tidak terjadi konflik, kericuhan ataupun pertentangan kehendak. Tradisi slamten menunjukkan bahwa mereka hidup berdampingan dengan rukun dan guyup, merasa senasib sepenanggungan, tentrem dan aman. Dimana dengan upacara slametan ini mereka berusaha memulihkankerukunan—manakala sebelumnya pernah terjadi konflik-konflik, agar sesuai dengan keselarasan kosmos. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar mereka selamat dari marabahaya dan terhindar dari gangguan alam ghaib [alam alus] karena mereka percaya bahwa dengan terjalinnya kebersamaan dan kerukunan dalam masyarakat, maka makhluk-makhluk di alam ghaib pun turut menjadi senang, keadaannya teratur dan nyaman. Disinilah makna hubungan korespondensi antara dua alam, alam kasar dan alam alus. Terkadang masyarakat jawa menyempatkan diri untuk memberi sesaji, biasanya terdiri dari berbagai jajan pasar, kepala binatang sembelihan, dan bunga ditempat-tempat tertentu, --seperti punden, kuburan atau pohon besar yang dipercaya dihuni oleh makhluk halus [Dahnyang]. Sungguhpun demikian, pemberian sesaji yang mereka lakukan bukanlah sebagai suatu bentuk pemujaan atau menjadikannya sesembahan, melainkan hanya sebatas ungkapan rasa terima kasih dan imbal jasa atas bantuannya dalam menjaga ketentraman dan keamanan derah tempat mereka tinggal dari gangguan penyakit dan marabahaya. Pada saat-saat tertentu, sebuah keluarga jawa bersama dengan saudara atau anak-anaknya, biasa pergi kekuburan orang tua atau leluhurnya untuk berdo’a. Disana, mereka pun sempatkan pula untuk menyampaikan harapan dan keinginannya, lantas minta do’a restu dan bantuan kepada arwah leluhurnya agar tercapai yang dia inginkan. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat jawa juga percaya bahwa mereka masih memiliki ikatan/hubungan batin dengan orang tua atau para leluhur yang telah lama mati, dimana mereka juga turut memperhatikan keselamatan dan kebahagiaan anak cucunya.
Kaidah yang kedua, adalah prinsip hormat. Prinsip ini berkaitan erat dengan penagturan perilaku dan tata karama masyarakat jawa. Bagi mereka, masing-masing anggota harus tahu posisi dan pandai menempatkan diri. Setiap orang harus bertindak dan berperilaku sesuai dengan status sosial yang mereka jalanan sebagai garis nasib. Seorang anak diharapkan bersikap santun dan unggah-ungguh terhadap orang yang lebih tua, seoarng murid hendaknya menghormati gurunya dan setiap orang seharusnya menghormati orang lain yang memiliki status sosial diatasnya. Demikian pula sebaliknya, masing-masing dituntut untuk mengembangkan sikap saling menghormati yang direalisasikan menurut kedudukannya dalam strata sosial yang ada, dengan demikian terbentuklah keselarasan kosmos. Keinginan yang berlebihan [ambisi] dalam mendapatkan sesuatu sehingga menerjang segala tatanan yang telah digariskan oleh nasib dan melanggar unggah-ungguh dianggap sebagai hal yang tidak patut [ora ilok]. Begitu juga dengan mengkritik secara kasar dan terang-terangan, mencaci-maki, menghina dan hal-hal yang rentan dalam menimbulkan konflik dianggap sebagai perbuatan yang salah karena menyalahi prinsip hormat. Hal ini dapat merusak tatanan Kosmos yang berdampak pada timbulnya kekacauan dalam kehidupan masyarakat. Begitu ketatnya nilai etika dan moral yang berlaku dalam tradisi masyarakat jawa, sehingga dalam perkembangan sejarah dan bahasa, masyarakat jawa memiliki bentuk bahasa yang amat konpleks, rumit dan bertingkat-tingkat, seperti bahasa krama inggil, krama madya, madya dan ngoko.[5]

5. Ajaran tentang hubungan manusia dengan alam
Ada sebuah curi khas yang membedakan masyarakat jawa dengan bangsa-bangsa lain yeng menganut faham animisme dan dinamisme, yakni kesadaran yang timbul sebagai konsekuensi logis dari pandangan yang meyakini bahwa mereka hidup tidak sendiri, melainkan hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk ghaib yang memiliki kekuatan adikodrati dalam sebuah keselarasan kosmos. Bila mana manusia dapat menjalin hubungan dengan mereka, maka tentunya ia dapat mengambil keuntungan dengan memanfaatkan keberadaan mereka atau mengambil kekuatan daripadanya ?
Dalam keyakinan mereka, kekuatan adikodrati itu dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuan manakala mereka dapat berhubungan dengan makhluk-makhuk gaib itu dan mengumpulkan atau meminjam kekuatan adikodratinya. Dampak dari kepercayaan ini adalah timbulnya suatu tradisi, yang biasanya berkembang dikalangan para Raja dan penguasa jawa yang ingin memperbesar pengaruh kekuatan sisio-politiknya, yakni tirakat, berupa tapa brata atau lelono sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Airlangga, raja kerajaan Kediri yang naik gunung dan keluar-masuk hutan angker selama ± 20 tahun untuk memusatkan kekuatan kosmis dalam dirinya. Tirakat merupakan salah satu cara untuk memusatkan kekuatan kosmis dan memperoleh kasekten sebagaimana dinyatakan oleh Franz Magnis Suseno : “Dalam tradisi masyarakat jawa ada cara-cara memusatkan kasekten, kekuatan kosmis, dalam dirinya sendiri. Untuk itu kekuatan-kekuatan batin tidak boleh diizinkan keluar dari alam lahir. Kontrol terhadap diri sendiri perlu diperketat dan seluruh perhatian batin harus diarahkan kepada tujuan yang dicari. Disitu termasuk pelbagai usaha tapa, seperti puasa, mengurangi makan dan minum, tidur dan berpantangan seksual. Begitu juga semedi. Demi tujuan tersebut orang akan menyepi[lelono broto].Tempat-tempat yang cocok untuk semedi adalah puncak gunung, gua, dihutan dan sungai”.[6]
Bilamana seseorang telah mampu memusatkan tenaga kosmis kedalam diri dan memperoleh kasekten, maka ia akan menjadi orang yang berkuasa.
Istilah kekuasaan menurut ajaran jawa sama sekali berbeda dengan kekuasan yang dikenal dengan terjemahan bahasa Inggris Power. Kekuasaan dalam ajaran jawa mengandung ungkapan energi Ilahi yang tanpa bentuk, yang selalu kreatif meresapi seluruhkosmos. Kekuasaan bukanlah suatu gejala khas sosial yang berbeda dengan kekuatan-kekuatan alam, melainkan ungkapan kekuatan kosmis yang semacam fluidum (anasir cairan) memenuhi seluruh kosmos. Kekuasaan bersifat homogen, bersifat satu, dan sama saja dimanapun ia menampakkan diri. Jumlah kekuasaan dalam alam semesta tetap saja jumlahnya, tidak bertambah dan tidak berkurang karena identik dengan alam semesta itu sendiri, yang dapat berubah hanyalah pembagian kekuasaan dalam kosmos.[7]
Kekuasan dalam pandangan masyakarat jawa, adalah sesuatu yang keramat, yang agung, bersandar pada Tuhan sang pencipta. Kekuasaan ini hanya dapat dimiliki oleh manusia terpilih yang memiliki daya kekuatan kosmos berlebih sehingga ia mempu memegang kekuasaan yang oleh orang jawa disebut wahyu. Tradisi jawa menvisualisasikan wahyu berbentuk andaru, yang dilukiskan sepeti bola yang memancarkan cahaya biru cemerlang gemerlapan, masuk kedalam tubuh manusia yang memperoleh wahyu dari dan karena Tuhan. Namun, penempatan wahyu yang disebut juga pulung ini bukanlah bersifat permanen. Dalam kepercayaan jawa, waktu ini akan oncat keluar dari tubuh seorang penguasa manakala ia telah berbuat angkara murka, maksiat, terutama mengumbar hawa nafsu dan berbuat tidak adil.[8]
Tradisi jawa juga mengenal medium sebagai tempat dimana kekuatan kosmis terkonsentri. Temapat(wadah) itu bisa berupa makhluk hidup atau manusia. Karena itulah tak heran kalau mereka mempercayai adanya keris atau benda-benda pusaka yang dikeramatkan karena dianggap bertuah, hasil pemusatan energi kosmis yang dilakukan oleh empu-empu yang memiliki kasekten.
Dalam kasus ini, yang mereka percayai hanyalah kekuatan kosmis yang tersimpan pada benda-benda pusaka, bukan pada benda pusaka itu sendiri karena ia hanyalah suatu benda yang berfungsi sebagai medium (wadah) bagi kekuatan kosmis. Bila kekuatan kosmis itu hilang, maka nilai benda pusaka itupun tak lebih daripada sepotong besi tua yang telah hilang pamornya.

6. Kesimpulan
Dari beberapa hal yang telah diuraikan diatas, penulis dapat menyimpulkan sebagai berikut :
1. Sebelum kedatangan agama Islam, hindu dan budha, didalam masyarakat jawa telah berkembang suatu sistem kepercayaan terhadap eksistensi zat adikodrati yang menguasai kosmos. Mereka bukanlah penganut penganut faham dinamisme - animisme. Sistem kepercayaan masyarakat jawa ini dikenal juga sebagai agama jawa.
2. Dasar kepercayaan agama jawa berpijak pada keyakinan adanya hubungan yang harmonis dalam kosmos. Alam semesta sudah diciptakan dalam keadaan tertata secara harmonis sebagaimana adanya. Manusia hidup tidak sendiri, melainkan hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk ghaib yang memiliki kekuatan adikodrati dalam sebuah keselarasan kosmos dimana mereka saling mempengaruhi. Karena itu setiap bagian dituntut untuk menjaga keseimbangan kosmos.
3. Hubungan korespondensi antara manusia dan Tuhan dapat digambarkan sebagaimana lakon Dewaruci, dimana pada dasar realita yang paling dalam, diri manusia berkudrat Ilahi. Pandangan mistis jawa terangkum dalam ajarannya tentang kawruh sangkan paraning dumadi.
4. Ada dua prinsip dasar yang melandasi etika atau moralitas jawa berkenaan dengan mengaturan hubungan antar sesama, yaitu prinsip Rukun dan prinsip Hormat.
5. Ajaran jawa mempercayai adanya hubungan tak tampak, yang bersifat batiniah, antara diri manusia dengan para leluhur yang sudah lama mati.
6. Dalam traisi jawa, dikenal juga lelaku tapa [lelana brata] sebagai konsekuensi logis dari pandangan tentang hubungan manusia dengan alam[kosmos]. Laku tirakat digunakan untuk memperoleh kekuatan alam[kosmos] yang disebut kasekten, dengan menyerap dan mengkonsentrasikan energi kosmis yang datang dari ilahi dalam diri manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Suparlan, Parsudi , dalam kata pengantarnya pada Clifford Geertz , The Religion of Java; Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Pustaka Jaya. Jakarta. 1981.
Suseno, Franz Magnis, Etika Jawa : Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Gramedia. Jakarta. 1993.
Partokusumo, Karkono Kamanjaya. Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan Islam. Ikatan Penerbit Indonesia Cabang Yogyakarta. 1995.

[1] Lihat keterangan Parsudi Suparlan dalam kata pengantarnya pada Clifford Geertz , The Religion of Java; Abangan, Santri dan Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Pustaka Jaya, Jakarta, 1981.
[2] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa : Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, Gramedia, Jakarta, 1993, hal. 87.
[3] Ibid, hal. 90
[4] Magniz Suseno, Op.Cit, hal. 116-117.
[5] Keterangan selengkapnya tentang kedua prinsip—prinsip rukun dan hormat, silahkan lihat pada Franz Magnis Suseno, Etika Jawa, Gramedia, Jakarta: 1993, hal. 38-81.
[6] Franz Magnis Suseno, Op.Cit, hal. 104.
[7] Ibid, hal 99-100,
[8] Karkono Kamanjaya Partokusumo, Kebudayaan Jawa, Perpaduannya dengan Islam, Ikatan Penerbit Indonesia Cabang Yogyakarta, 1995, hal. 200-201.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar